[lanjutannya...]
Makan
Anda harus mengamati setiap detail dari tindakan makan:
Ketika memandang makanan, ”memandang”.
Ketika menyendok makanan, “menyendok”.
Ketika membawa makanan ke mulut, “membawa”.
Ketika membungkukkan leher, “membungkukkan”.
Ketika makanan menyentuh mulut, “menyentuh”.
Ketika memasukkan makanan ke mulut, “memasukkan”.
Ketika mulut menutup, “menutup”.
Ketika menarik tangan, “menarik”.
Bila tangan menyentuh meja, “menyentuh”.
Ketika meluruskan leher, “meluruskan”.
Ketika mengunyah, “mengunyah”.
Ketika mengecap citarasa makanan, “mengecap”.
Ketika menelan makanan, “menelan”.
Ketika makanan terasa menyentuh dinding kerongkongan, “menyentuh”, dst.
Lakukan meditasi seperti ini untuk setiap suap makanan yang Anda masukkan ke mulut, sampai Anda selesai makan. Pada awal latihan tentu banyak detail yang terlewat. Jangan risaukan itu. Jangan goyah dalam upaya Anda. Bila Anda bertekun dalam latihan Anda, perhatian akan makin tajam dan makin sedikit detail terlewat. Bila Anda mencapai tingkatan yang lebih maju lagi, Anda akan mampu mengamati lebih banyak lagi detail daripada yang disebutkan di sini.
kemajuan dalam MEDITASI
Setelah berlatih selama sehari semalam, Anda mungkin mendapati meditasi Anda berkembang cukup banyak. Anda mungkin mampu memperpanjang latihan dasar mengamati gerakan perut.
Pada taraf ini, Anda akan melihat bahwa biasanya terdapat jeda antara gerakan turun dan gerakan naik. Bila Anda berada dalam posisi duduk, isilah jeda ini dengan mencatat dalam batin fakta duduk Anda: “naik – turun – duduk”. Ketika Anda mencatat fakta duduk, sadari tubuh Anda yang tegak lurus.
Bila Anda tengah berbaring, catatlah: “naik – turun – berbaring.” Bila Anda dapat melakukan ini dengan mudah, lakukan terus pencatatan dalam tiga bagian ini.
Bila Anda melihat ada jeda pula di antara gerak naik dan gerak turun dari perut, seperti jeda di antara gerak turun dan gerak naik, maka catatlah: “naik – duduk – turun – duduk.” Atau tengah bila berbaring, “naik – berbaring – turun – berbaring.”
Jika Anda pada suatu ketika mendapat kesukaran mencatat dalam tiga atau empat bagian, kembalilah pada cara mencatat yang lebih mudah, “naik – turun.”
Mengamati peristiwa indera
Dalam meditasi, ketika mengamati gerakan tubuh (gerakan perut dan bagian-bagian tubuh lain), Anda tidak perlu memperhatikan berbagai rangsangan yang masuk melalui indera mata, telinga dan indera yang lain. Selama Anda mampu memusatkan perhatian pada gerakan perut, maka tujuan latihan untuk memusatkan perhatian telah tercapai.
Namun, kadang-kadang Anda dengan sengaja memandang atau tidak sengaja melihat suatu obyek penglihatan. Bila ini terjadi, catatlah dalam hati dua-tiga kali, “melihat, melihat, melihat.” Lalu kembalilah menyadari gerakan perut. Misalnya, ada orang muncul dalam bidang penglihatan Anda. Catatlah dalam batin, “melihat”, dua-tiga kali; lalu kembalilah memperhatikan gerakan naik-turun perut.
Apakah Anda kebetulan mendengar suatu suara? Apakah Anda memperhatikannya? Kalau demikian, catatlah dalam batin, ‘mendengar, menyimak”; lalu kembali kepada gerakan perut. Tetapi seandainya Anda mendengar suara keras, seperti salak ******, orang berbicara dengan keras atau berteriak. Dalam hal itu, catatlah dalam hati dua-tiga kali, “mendengar”; lalu kembali pada latihan dasar.
Jika Anda lengah dan terlewat tidak mencatat (menyadari) suara keras seperti itu pada saat terjadinya, Anda mungkin tanpa sadar akan terseret ke dalam perenungan terhadap suara itu, alih-alih memperhatikan gerakan naik-turun perut, yang mungkin menjadi makin kabur dan kurang nyata. Karena perhatian yang melemah seperti inilah, berbagai nafsu yang mengotori batin dapat menyelinap masuk, berkembang-biak dan bertambah kuat.
Bila terjadi perenungan seperti itu, catatlah dalam batin, “merenungkan”, dua-tiga kali, lalu kembali mengamati gerakan naik-turunnya perut.
Bila Anda terlewat tidak mencatat gerakan tubuh, tungkai atau lengan, catatlah, “lupa”, lalu kembali mengamati gerakan perut.
Bila gerakan nafas tidak terasa
Kadang-kadang Anda mungkin merasa bahwa nafas Anda lambat atau gerakan naik-turun tidak jelas terasa. Bila ini terjadi, dan Anda berada dalam posisi duduk, alihkan perhatian dengan mencatat, “duduk, menyentuh”; atau, bila Anda berada dalam posisi berbaring, “berbaring, menyentuh”. Ketika menyadari sentuhan, jangan melihat sentuhan itu pada satu titik saja, melainkan berpindah-pindahlah dari satu titik ke titik lain. Terdapat beberapa titik sentuhan yang dapat dirasakan, misalnya: pantat menyentuh alas duduk, kaki menyentuh paha dalam posisi bersila, kedua telapak tangan yang bertumpukan di atas pangkuan, kedua ibu jari tangan yang saling menyentuh, lidah menyentuh dinding dalam mulut, bibir atas dan bibir bawah yang bersentuhan, dsb; pendeknya, sentuhan bisa terasa di seluruh tubuh bila diperhatikan.
Latihan dasar IV
Mengamati gerak-gerik batin
Sampai taraf ini, Anda telah bermeditasi cukup lama. Bila Anda merasa kemajuan Anda tidak memuaskan, Anda mungkin merasa malas. Janganlah sekali-kali menyerah. Catatlah saja fakta itu, “malas”.
Sebelum Anda mencapai konsentrasi dan perhatian yang cukup kuat, Anda mungkin meragukan kebenaran atau manfaat dari cara meditasi ini. Dalam hal itu, amatilah pikiran itu, dan catat, “ragu-ragu”.
Apakah Anda mengharapkan, menginginkan hasil yang baik? Jika ya, amati pikiran itu dan catat, “mengharapkan, meninginkan”.
Apakah Anda mencoba mengingat-ingat apa yang telah Anda lakukan sampai saat ini? Jika ya, perhatikan pikiran itu dan catat, “mengingat-ingat”.
Adakah saat-saat ketika Anda meneliti obyek kesadaran Anda dan mencoba menentukan apakah itu ‘batin’ atau ‘jasmani’? Jika ya, amati pikiran itu dan catat, “meneliti”.
Apakah Anda kecewa, meditasi Anda tidak memperoleh kemajuan? Jika ya, perhatikan pikiran itu dan catat, “kecewa”.
Sebaliknya, apakah Anda berbahagia, meditasi Anda mengalami kemajuan pesat? Jika ya, amati pikiran itu dan catat, “berbahagia”.
Dengan cara ini Anda mengamati dan mencatat setiap gerak-gerik batin pada saat terjadinya. Jika tidak ada lagi pikiran atau persepsi yang menyela masuk untuk diamati dan dicatat, kembalilah memperhatikan gerakan naik-turunnya perut.
Dalam latihan meditasi yang intensif, masa latihan adalah dari saat pertama kali Anda terjaga dari tidur, sampai saat terakhir sebelum Anda terlelap tidur kembali. Sekali lagi, Anda harus terus-menerus menyadari dan mengamati latihan dasar (gerakan naik-turun perut) atau setiap gerak-gerik jasmani dan batin pada saat terjadinya, sepanjang hari dan malam ketika Anda tidak tidur.
Tidak boleh ada pengendoran sedikit pun. Setelah mencapai taraf kemajuan tertentu dalam meditasi, Anda tidak akan merasa mengantuk sekalipun Anda berlatih meditasi berjam-jam; sebaliknya, Anda malah dapat terus bermeditasi siang dan malam, dengan sedikit sekali tidur.
Ringkasan
Dalam petunjuk singkat ini telah ditekankan bahwa Anda harus mengamati setiap gerak-gerik batin, baik atau buruk; setiap gerak-gerik jasmani, kecil atau besar; setiap perasaan (perasaan jasmani atau batin), menyenangkan atau tak menyenangkan; dan seterusnya.
Jika dalam bermeditasi, terdapat saat-saat ketika tidak muncul sesuatu yang khusus untuk diamati, pusatkan perhatian pada gerakan naik-turunnya perut.
Bila Anda harus melakukan kegiatan yang membutuhkan berjalan, maka dengan kesadaran penuh setiap langkah harus dilakukan, dengan mencatat, “berjalan, berjalan” atau “kiri, kanan”.
Tetapi bila Anda bermeditasi sambil berjalan, perhatikan langkah sekurang-kurangnya dalam tiga bagian: “angkat – maju – taruh”.
Siswa yang tekun berlatih siang dan malam, dalam waktu tidak terlalu lama konsentrasinya akan menguat demikian rupa sampai tercapai taraf awal dari pencerahan tingkat keempat, yakni ‘pencerahan (pengalaman langsung) tentang muncul dan lenyapnya segala fenomena’(1). Dari situ ia dapat berjalan sendiri menuju tingkat-tingkat pencerahan yang makin lama makin tinggi.
Semoga Bermanfaat bagi Semua dan Semoga Semua Makhluk Berbahagia
|