Komhukum (Flores) - Dahulu kala di pesisir selatan kepulauan Indonesia yang mengarah ke timur, bangsa Portugis datang menapakan kakinya di sebuah pulau yang penuh ditumbuhi dengan bunga-bunga cantik.
Mereka pun menamainya pulau Flores, yang berarti tanah penuh bunga atau pulau bunga. Pelaut Portugis dulu menyebutnya dengan Cabo da Flores untuk pulau yang terletak di rantai pegunungan berapi aktif.http://static.kaskus.co.id/images/sm...indonesias.gif
Unsur budaya Portugis yang kental bercampur dengan agama Katholik yang dianut oleh mayoritas masyarakat asli Flores telah mewariskan berbagai tradisi religius, yang paling terkenal adalah pawai Paskah yang diadakan setiap tahun di daerah Larantuka.
Perayaan Paskah di Larantuka memang unik. Di sana, peristiwa penderitaan Yesus diungkapkan secara utuh. Siapa saja boleh ikut.
Karena perayaan ini merupakan paduan tradisi dan ritual agama Katholik. Itu sebabnya warga turis lokal maupun turis manca negara sangat antusias mendatangi Larantuka. Prosesi Semana Santa (Pekan Suci) ialah tradisi yang diwariskan pastor Portugis.
Tahun ini, umur prosesi itu mencapai lima abad, di Portugis negara asal prosesi ini, sudah lama ditinggalkan. Selebihnya masih diadakan di Filipina dan Syanyol. Inilah yang mendorong umat dari berbagai daerah dan mancanegara datang ke Larantuka.
Paskah di Larantuka dan sebagai tujuan wisata religius
Fenomena alam sekaligus tujuan wisata paling terkenal di Flores adalah gunung Kelimutu (1.690 meter di atas permukaan laut). Terdiri atas 3 danau kawah yang berada di Kaldera gunung berapi dan dipengaruhi oleh sumber gas vulkanik, sehingga air di ketiga danau ini sering berubah warna.
Danau ini terakhir kali berubah warna pada tahun 2004, adapun ketiga danau tersebut sekarang berwarna pirus, coklat, dan hitam. Konon fenomena alami seperti ini hanya dapat ditemukan di gunung Kelimutu.http://static.kaskus.co.id/images/sm...bangan/004.gif Perubahan warna tersebut diduga akibat adanya pembiasan cahaya matahari, adanya mikro biota air, terjadinya zat kimiawi terlarut, dan akibat pantulan warna dinding dan dasar danau.http://static.kaskus.co.id/images/sm...bangan/004.gif
Selain itu, pulau Flores kaya akan ragam bahasa berdasarkan suku-suku yang tersebar dari barat hingga timur. Dengan hadirnya beberapa suku di pulau Flores, hal ini menimbulkan berbagai macam dialek bahasa sesuai dengan keberadaan masing-masing suku. Leluhur dari bangsa Flores ini adalah bangsa Austronesia. Untuk dialek bahasa yang paling umum dipakai adalah Ngadha, Nage, Keo, Ende, Lio, Palu"e, So’a, dan Bajawa.
Bagi mereka yang gemar olahraga snorkeling dan diving dapat mengunjungi pesisir pantai utara Flores, khususnya wilayah Maumere dan Riung yang kaya akan taman lautnya. Sayangnya :mewek:beberapa wilayah surga bawah laut ini mulai rusak karena ulah oknum nelayan yang menangkap ikan menggunakan bahan peledak dan adanya gelombang tsunami akibat gempa bumi pada tahun 1992.:mewek:
Perairan Labuanbajo juga terkenal keindahannya dan kekhasan tersendiri alam bawah lautnya dengan ikan hiu dan paus sebagai penghuninya, di perairan Labuanbajo dipenuhi oleh pulau-pulau kecil yang tersebar banyak sekali saling bertumpuk sehingga air laut lebih sering terlihat begitu tenang.
Pulau Komodo dan spesies Komodo yang hanya ada di pulau ini
Budaya lain yang paling terkenal di Flores adalah tenun ikat khasnya. Mempertahankan cara tradisional yang diajarkan oleh nenek moyang adalah prinsip masyarakat Flores dalam menghasilkan produk kain tenun ikat. Salah satunya, selalu memanfaatkan bahan pewarna alami seperti dari biji mengkudu dan kulit nangka.
Berbagai motif tenun ikat Flores dan seorang juru tenun ikat asli Flores
Inilah sebuah simbol budaya lokal bangsa yang bertahan dari gempuran zaman. Berbagai industri tenun ikat bisa Anda temukan di Kabupaten Ende. Anda bisa melihat para penenun sibuk membuat kain tenun dengan warna dasar hitam bercorak kuning. Tiap kain memiliki corak yang berbeda. Jika datang ke tempat ini, jangan lupa membawa buah tangan berupa kain tenun ikat yang indah. (K-4/IYO)