Alam Manusia diantara 31 Alam Kehidupan
Dikutip dari Tulisan Cornelis Wowor
Di kalangan masyarakat dan karena pengaruh pandangan atau ajaran dari agama-agama lain, banyak orang menganggap bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanya sekali saja. Pandangan ini berbeda sekali dengan agama Buddha, karena dalam Digha Nikaya, Brahmajala Sutta, Sang Buddha menerangkan tentang kehidupan manusia yang telah hidup berulang-ulang kali yang diingat berdasarkan pada kemampuan batin yang dihasilkan oleh meditasi. Sang Buddha mengatakan bahwa: ..... ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batinnya, menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, beberapa ribu atau puluhan ribu kehidupan yang lampau ..... 1, 2, 3, 4, 5, 10, kali masa bumi berevolusi (bumi terjadi dan bumi hancur, bumi terjadi kembali dan hancur kembali ..... dst.). ..... 20, 30, sampai 40 kali masa bumi berevolusi ..... (tetapi) Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh daripada jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut ..... Telah kita ikuti di atas bahwa menurut pandangan Buddhis, kehidupan atau kelahiran manusia bukan baru sekali saja tetapi telah berulang-ulang kali hidup di bumi ini dan juga hidup di bumi-bumi yang lain. Manusia atau mahluk hidup berpindah-pindah dari sebuah bumi ke bumi yang lain. Perpindahan kehidupan manusia dari sebuah bumi ke bumi yang lain disebabkan karena bumi yang dihuninya telah hancur lebur atau kiamat, maka setelah kematiannya di bumi tersebut ia terlahir di alam Abhassara (alam cahaya). Kelahiran di alam Abhassara ini dapat dicapai oleh orang yang melakukan meditasi ketenangan batin (samatha bhăvana). Alam Abhassara adalah sebuah alam dari 31 alam kehidupan menurut kosmologi alam kehidupan Buddhis. Tentang 31 alam ini lihatlah TABEL ALAM-ALAM KEHIDUPAN. Bila seseorang bermeditasi samatha bhăvana hingga mencapai tingkat Jhăna II, dan kalau orang tersebut meninggal dunia dalam kondisi meditasi pada Jhăna II tersebut maka ia akan terlahir sebagai Brahma di alam Abhassara dan hidup dengan masa usia yang lama sekali. Dari ke 31 alam, kecuali lima alam Suddhavasa yaitu alam Aviha, Atappa, Sudassa, Sudassi dan Akanittha, adalah alam lokuttara (transenden) tempat kelahiran para Anagami*. Anagami adalah manusia atau mahluk yang telah melenyapkan 5 belenggu (samyojana)** dari 10 belenggu yang mengikat manusia. Anagami adalah manusia atau mahluk suci (ariya pugala) dari empat macam manusia suci menurut agama Buddha, yaitu : Sotapanna, Sakadagami, Anagami dan Arahat. Anagami akan mencapi tingkat kesucian tertinggi (arahat) di salah satu alam Suddhavasa ini, dan ia parinibbana sebagai arahat di alam ini pula. Manusia pada umumnya telah berulang-ulang kali masuk keluar hidup di 26 alam kehidupan. Kelahiran manusia di salah sebuah alam tergantung pada amal perbuatannya semasa hidupnya di sebuah alam. Catatan *) Manusia suci menurut pandangan Buddhis ada empat yaitu : 1. Sotapanna, orang suci yang paling banyak akan terlahir tujuh kali lagi. 2. Sakadagami, orang suci yang paling banyak akan terlahir sekali lagi. 3. Anagami, orang suci yang tidak akan terlahir lagi di alam manusia, tetapi langsung terlahir kembali di salah sebuah dari lima alam Suddhavasa. Dari salah sebuah alam Suddhavasa ini Anagami itu akan mencapai tingkat kesucian tertinggi sebagai Arahat dan akhirnya ia mencapai parinibbana. 4. Arahat, orang suci yang telah menyelesaikan semua usahanya untuk melenyapkan semua belenggu yang mengikatnya. Bila ia meninggal dunia, ia tidak akan terlahir di alam mana pun. Ia akan parinibbana. **) Ada sepuluh macam belenggu (samyojana) yaitu : 1. Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal (sakkaya-ditthi). 2. Keragu-raguan yang skeptis pada Buddha, Dhamma, Sangha, dan tentang kehidupan yang lampau dan kehidupan yang akan datang, juga tentang hukum sebab akibat (vicikicchă). 3. Kemelekatan pada suatu kepercayaan bahwa hanya dengan melaksanakan aturan-aturan dan upacara keagamaan seseorang dapat mencapai kebebasan (silabbata-parămăsa). 4. Nafsu indriya (kăma-răga). 5. Dendam atau dengki (vyăpăda). 6. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk (rüpa-răga). Alam bentuk (rüpa-răga) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Jhăna I, Jhăna II, Jhăna III atau Jhăna IV (lihat TABEL). 7. Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk (arüpa-răga). Alam tanpa bentuk (arüpa-răga) dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Arüpa Jhăna I, Arüpa Jhăna II, Arüpa Jhăna III atau Arüpa Jhăna IV (lihat TABEL). 8. Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain (măna). 9. Kegelisahan (uddhacca). Suatu kondisi batin yang haus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat). 10. Kebodohan atau ketidak-tahuan (avijjă). Sotăpanna telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana), yaitu (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchă, dan (3) silabbata-parămăsa. Sakadagami telah melenyapkan tiga belenggu (samyojana) yaitu (1) sakkaya-ditthi, (2) vicikicchă, dan (3) silabbata-parămăsa dan telah melemahkan belenggu (4) kăma-răga dan (5) vyăpăda. Anăgami telah melenyapkan lima belenggu (samyojana) yaitu (1) sampai dengan (5). Lima samyojana (1 - 5) dikenal sebagai lima belenggu rendah atau Orambhăgiya-samyojana. Arahat telah melenyapkan sepuluh belenggu (1 - 10). Lima samyojana berikut yaitu samyojana 6 - 10 dikenal pula dengan nama belenggu tinggi atau Uddhambhăgiya-samyojana. Orambhăgiya-samyojana dan Uddhambhăgiya-samyojana telah dimusnahkan oleh Arahat. Tabel Alam-alam Kehidupan utk tabelnya bisa diliat di Website http://www.samaggi-phala.or.id/naska...ml&path=&hmid= |
| All times are GMT +7. The time now is 01:17 PM. |